Senin, 31 Maret 2014

Oleh Oleh dari Kota Makassar

Mengunjungi Kota Makassar tidak afdol apalagi ibu-ibu pasti mengunjungi pusat oleh oleh, setelah mengunjungin Pantai Losari dan  Benteng Rotterdam yang terletak satu jalur perjalanan. Isteri tercintapun membeli beberapa oleh oleh   pada tanggal 25 Maret 2014.
 Isteri Tercinta Kerismiaty






Bermesraan di Depan Benteng Rotterdam Makassar

Mengunjungi Kota Makassar selain mengunjungin Pantai Losari harus juga mengunjungin  Benteng Rotterdam yang terletak tidak begitu jauh dari Pantai Losari. Kamipun bersama isteri tercinta sempat mengunjungin Benteng Rotterdam walapun hanya di bagian depannya saja karena waktu sudah sore  pada tanggal 25 Maret 2014.
Benteng Rotterdam dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

 Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
 Benteng Rotterdam yang didalamnya terdapat Museum lagaligo menyimpan seribu kisah masa lalu bangsa ini khususnya sejarah peradaban jazirah Sulawesi bagian Selatan yang mayoritas didiami oleh etnis Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Peninggalan kebudayaan leluhur tersimpan rapi di benteng ini.

 Saya Mukhtar, A.Pi, M.Si bersama Isteri Kerismiaty




Berkencan di Pantai Losari Makassar

 Ketika Mengunjungi Kota Makassar tidak puas kalau tidak mengunjungin Pantai Losari, Pantai tempat warga kota Makassar berkumpul menikmati suasana pantai dengan aneka ragam hiburan. Kamipun berdua Isteri tercinta berkencan di Pantai Losari Makassar pada tanggal 25 Maret 2014.

 Mukhtar, A.Pi, M.Si bersama Isteri Tercinta Kerismiaty














Ke Pesta Pernikahan di Kota Kendari

 Sebelum ke Pesta acara resepsi perkawinan pada tanggal 23 Maret 2014 di Kendari kami sekeluarga berfoto dulu

 Kerismiaty - Larantika Angriati Putri -Salsabilla Rahmadani Putri - Mukhtar, A.Pi





 Keiswassty - Kerismiaty

Fikri bersama mamanya